BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam arti
luas, farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup,
lewat proses kimia khususnya lewat reseptor. Senyawa ini biasanya disebut obat
dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari manfaat dan risiko penggunaan
obat.
Farmakologi
mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu mengenai cara membuat,
memformulasi, menyimpan, dan menyediakan obat. Farmakologi terutama terfokus
pada dua sub, yaitu farmakokinetik dan farmakodinamik.
Tanpa
pengetahuan farmakologi yang baik, seorang farmasis dapat menjadi suatu masalah
untuk bagi pasien karena tidak ada obat yang aman secara murni. Hanya dengan
penggunaan yang cermat, obat akan bermanfaat tanpa efek samping tidak
diinginkan yang tidak mengganggu.
Obat selain
bermanfaat dalam pengobatan penyakit, juga merupakan penyebab penyakit. Menurut suatu survey di Amerika Serikat,
sekitar 5% pasien masuk rumah sakit akibat obat. Rasio fatalitas kasus akibat
obat di rumah sakit bervariasi antara 2-12%. Efek samping obat meningkat
sejalan dengan jumlah obat yang diminum. Melihat fakta tersebut, pentingnya
pengetahuan farmakologi bagi seorang farmasis.
Farmakologi
terutama berfokus pada dua subdisiplin, yaitu farmakodinamik dan
farmakokinetik. Namun dalam makalah ini mengenai ilmu farmakologi penyusun
berfokus pada ilmu disiplin farmakokinetik.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah
ini ialah :
1.
Apa yang dimaksud dengan
farmakokinetik ?
2.
Apa yang dimaksud dengan
absorbsi dan bioavailabitas ?
3.
Apa itu distribusi dalam
farmakokinatik ?
4.
Bagaimana metabolisme dan
eksresi dalam farmakokinetik ?
5.
Bagaimanakah takaran dosis yan
gdigunakan pada farmakokinatik ?
C. Tujuan
Tujuan dari
penyusunan makalah ini ilah selain untuk memenuhi tugas kami di mata kuliah
farmakologi dan untuk menambah ilmu pengetahuan kami tujuan lain dari
penyusunan makala ini ialah :
1.
Untuk mengtahui penegrtian
dari farmakokinetik.
2.
Untuk mengetahui penegrtian
dari absorpsi dan bioavailabitas.
3.
Untuk mengatahui distribusi
dalam farmakokinatik.
4.
Untuk mengetahui metabolisme
dan eksresi dalam farmakokinetik.
5.
Serta untuk mengatahui takaran
dosis yang digunakan pada farmakokinatik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Farmakokinetik
Mencakup
studi tentang penyerapan dan distribusi obat , studi tentang perubahan kimiawi
obat dalam tubuh , dan studi sarana penyimpanan obat di dalam tubuh dan
penghapusannya. Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang
dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi. Dalam arti sempit, farmakokinetik khususnya mempelajari
perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya dalam darah dan
jarigan sebagai fungsi dari waktu.
Dalam fase
farmakokinetik termasuk bagian proses invasi dan proses eliminasi (evasi). Yang
dimaksud dengan invasi ialah proses-proses yang berlangsung pada pengambilan
suatu bahan obat ke dalam organisme (absorpsi, distribusi), sedangkan eliminasi
merupakan proses-proses yang menyebabkan penurunan konsentrasi obat dalam organisme
(metabolisme, ekskresi).
Setiap obat
memiliki sebuah kisaran teraupetik atau kisaran yang dikehendaki untuk
konsentrasi obat tersebutdalam plasma. Diatas kisaran teraupetik, efek toksin
dapat terjadi. Dibawah kisaran traupetik , obat tidak menghasilkan efek yang
dikehendaki.
Konsentrasi
setiap obat dalam plasma dan jaringan tubuh bergantung pada cara obat tersebut diperlakukan
tubuh . tubuh menangani semua obat
melalui tiga tahap yaitu absopsi, distribusi dan eleminasi.
B. Absorpsi
Absorpsi merupakan proses yang membuat obet tersedia di dalam cairan tubuh
untuk didistribusikan. merupakan Absorpsi merupakan proses masuknya obat
dari tempat pemberian ke dalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat
pemberian obat adalah saluran cerna ( mulut sampai dengan rectum ), kulit,
paru, otot, dan lain-lain.
Penghalang utama yang merintangi absorpsi dan distribusi obat meliputi :
dinding usus, dinding pembuluh kapiler , membrane sel dan sawar darah/ otak,
plasenta, sawar darah dan ASI.
Yang
terpenting adalah cara pemberian obat per oral/per os, dengan
cara ini tempat absopsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi
yanng sangat luas, yakni 200 m2 ( panjang 280 cm, diameter 4 cm, disertai
dengan villi dan mikrovilli ).
Semua tablet dan kapsul harus ditelan dengan segelas penuh air , sementara
pasien duduk tegak dan mempertahankan posisi tegak tersebut selama 30 menit.
Tindakan ini akan memastikan tidak terjadinya kontak yang berkepanjangan antara
obat dan dinding mukosa mulut serta esophagus yang rentang ter hadap zat-zat
korosif seperti aspirin , zat besi dan
garam kalium.
Absorpsi
obat melalui saluran cerna pada umumnya terjadi secara difusi pasif, karena itu
absorpsi mudah terjadi bila obat dalam bentuk
non-ion dan mudah larut dalam lemak. Absorpsi secara transpor aktif terjadi terutama di dalam usus halus untuk zat-zat makanan : glokusa dan gula lain,
asam amino, basa purin, dan pirimidin, mineral, dan beberapa vitamin. Cara ini
juga terjadi untuk obat-obat yang struktur kimianya mirip struktur zat makanan
tersebut. Misalnya levodopa, metildopa, 6-merkaptopurin, dan 5-flourourasil.
Kebanyakan
obat merupakan electrolit lemah, yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam air,
elektrolit lemah ini akan terionisasi menjadi bentuk ionnya. Untuk asam lemah,
pH yang tinggi (suasana basa ) akan meningkatkan ionisasinya dan mengurangi
bentuk nonionnya. Sebaliknya untuk basa lemah, pH yang rendah (suasana asam )
yang akan meningkatkan ionisasinya dan mengurangi nonionnya. Hanya bentuk
nonion yang mempunyai kelarutan lemak, sehingga hanya bentuk nonion dan bentuk
ion berada dalam kesetimbangan, maka setelah bentuk nonion diabsopsi,
kesetimbangan akan bergeser kearah bentuk nonion sehingga absorpsi akan
berjalan terus sampai habis. Zat-zat
makanan dan oabt0obat yanng strukturnya mirip makanan, yang tidak dapat / sukar
berdifusi pasif memerlikan membran agar dapat dapat diabsorpsi dari saluran
cerna maupun direabsopsi dari lumen tubulus ginjal.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi absorpsi:
·
Derajat ionisasi.
·
Dosis dan waktu pemberian obat
·
pH dan pK
·
pelarut obat dan bentuk obat
·
luas permukaan absorpsi
·
aliran darah
·
kondisi usus dan kecepatan
pengosongan lambung
·
interaksi dengan obat lain
Rasa nyeri khususnya migraine dan nyeri persalinan akan mempengaruhi
mortilitas lambung sehingga memperlambat penyerapan obat- obat yang iberikan
per oral.
Keadaan makanan dalam lambung dapat menpengaruhi absorpsi banyak obat ,
seperti zat besi, preparat antimikroba dan nifedipin. Keberadaan makanan dalam
lambung dapat mengurangi rasa mual yang menyertai pemberian beberapa obat
seperti zat besi dan asprin. Absorpsi sebagian obat ditingkatkan oleh keasaman
lambung.
Penurunan motilitas gastrointestinal yang berkaitan dengan kehamilan
(akibat peningkatan progesterone dan penurunan motilin) memperlambatt absorpsi
obat-obatan tertentu dari dalam traktus gastrointestinal. Hal ini dapat
mengurangi efikasi obat-obat anti-epilepsi. Selama kehamilan , pembuluh darah
tepi akan melebar sehingga terjadi peningkatan sirkulasi perifer yang dapat
meningkatkan penyerapan obat-obat yang diberikan lewat suntikan sub kutan atau
intramuskuler. Bagi wanita dengan penyakit diabetes harus diingatkan tentang
bertambahanya risiko hipoglikemia pada awal kehamilannya.
C. Bioavailabilitas
Konsep bioavailabilitas pertama
kali diperkenalkan oleh Osser pada
tahun 1945, yaitu pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang dipakai pertamakali adalah
availabilitas fisiologik, yang kemudian diperluas pengertiannya dengan istilah
bioavailabilitas. Dimulai di negara Amerika
Serikat, barulah pada tahun1960 istilah
bioavailabilitas masuk ke dalam arena promosiobat. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produk obat yang sama yang
diproduksi oleh berbagai industri obat, adanya keluhan dari pasien dan dokter
di man obat yangsama memberikan efek terapeutik yang berbeda, kemudiandengan
adanya ketentuan tidak diperbolehkannya Apotekmengganti obat yang tertulis
dalam resep dengan obat mereklainnya.
Sebagai cabang ilmu yang relatif
baru, ditemukan berbagaidefinisi tentang bioavailabilitas dalam berbagai
literatur. Bagian yang esensial dalam konsep bioavailabilitas adalah absorpsi obat ke dalam sirkulasi sistemik.
Ada 2 unsur penting dalam
absorpsi obat yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1) kecepatan
absorpsi obat
2) jumlah obat
yang diabsorpsi
Ke dua faktor
ini sangat kritis dalam memperoleh efek terapeutik yang diinginkan dengan
toksisitas yang minimal. Atas dasar kedua faktor ini dapat diperkirakan
bagaimana seharusnya definisi tentang bioavailabilitas. Dua definisi berikut
ini merupakan definisi yang relatif lebih sesuai dengan kedua faktor di atas
adalah :
Definisi 1: Bioavailabilitas
suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat
tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke dalam sirkulasi
sistemik.
Definisi 2 : Bioavailabilitas
suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat
tersebut yang diabsorpsi.
D. Distribusi
Distribusi merupakan
perjalanan obat keseluruh tubuh. Proses ini dipengaruhi oleh:
1.
Pengikatan
protein plasma
2.
Kelarutan obat
dalam lipid (yaitu, apakah obat tersebut larut dalam jaringan lemak)
3.
Sifat-keterikatan
obat
4.
Aliran darah
kedalam organ dan keadaan sirkulasi
5.
Stadium dalam
siklus kehidupan, misalnya kehamilan , masa bayi
6.
Kondisi penyakit
, misalnya preklampsia atau gagal jantung
Dalam darah, obat akan diikat oleh
protein plasma dengan berbagai ikatan lemah (ikatan hidrofobik, van der waals,
hidrogen dan ionik).
Obat yang terikat pada protein
plasma akan dibawah oleh darah keseluruh tubuh. Kompleks obat proten
terdisosiasi dengan sangat cepat. Obat bebas akan keluar kejaringan (dengan
cara yang sama seperti cara masuknya). Ketempat kerja obat, kejaringan tempat
depotnya, kehati ( dimana obat mengalami metabolisme menjadi metabolit yang
dikeluarkan melalui empedu atau masuk kembali kedarah), dan keginjal (dimana
obat/metabolitnya diekaskresi kedalam urin).
Dijaringan, obat yang larut air
akan tetap berada diluar sel (dicairan interstisial), sedangkan obat yang larut
lemak akan berdifusi melintasi membran sel dan masuk kedalam sel, tetapi karena
perbedaan ph di dalam sel (ph=7) dan diluar sel (ph=7,4), maka obat-obat asam
lebih banyak diluar sel dan obat-obat basah lebih banyak didalam sel.
Sawar darah otak (blood-brain
barrier) merupakan sawar antara darah dan otak sel-sel endotel pembuluh darah
kapiler diotak membentuk tight-junction (tidak ada lagi cela diantara sel-sel
endotel tersebut) dan pembuluh darah kapiler ini dibalut oleh tangan-tangan
astrosit otak yang merupakan berlapis-lapis membran sel. Dengan demikian hanya
obat laruk baik dalam lemak yang dapat melintasi sawar darah otak. Akan tetapi
obat laruk lemak yang merupakan substra P-gp atau MRP akan dikeluarkan oleh
P-gp atau MRP yang terdapat pada membran sel endotel pembuluh kapiler otak
(awar darah otak). Dengan demikian P-gp menunjang fungsi sawar darah otak untuk
melindungi otak dari obat yang efeknya merugikan. Contohnya, loperamid, obat
ini larut lemak tapi juga substrat P-gp maka tidak masuk otak.
Sawar uri (placental barrier)
terdiri dari satu lapisan sel epitel vili dan satu lapisan sel endotel kapiler
dari fetus, jadi mirip sawar saluran cerna. Karena itu obat yang dapat
diabsorpsi melalui pemberian oral juga dapat masuk ftus melalui sawar uri. P-gp
pada sawar uri, seperti halnya pada sawar darah otak, juga berfungsi untuk
menunjang fungsi sawar untuk melindungi fetus dari otak yang efeknya merugikan.
Kegagalan ginjal
dan hati akan menganggu kemampuan tubuh dalam mengeliminasi besar obat (
misalnay eklampsia atau preeclampsia yang berat). Obat juga akan menumpuk dalam
tubuh jika ibu hamil atau nenatus tersebut mengalami dehidrasi. Jika terjadi
penumpukan obat, efek sampingnya akan semakin berat. Keadaan lain yang dapat
mempengaruhi distribusi obat meliputi : gagal jantung, penyakit tiroid,
penyakit gastrointestinal.
E. Matabolisme
Metabolisme / Biotransformasi
yaitu proses perubahan struktur kimia obat dan zat lain yang terjadi dalam
tubuh dan dikatalis oleh enzim.
Metabolisme obat
terutama tejadi di hati, yakni di membran endoplasmic recticulum ( mikrosom)
dan di cytosol. Tempat metabolism yang lain ( ekstrhepatik) adalah : dinding
usus, ginjal, paru, darah, otak, dan kulit, juga di lumen kolon (oleh flora
usus).
Sebagian besar
metabolisme obat berlangsung dalam hati,
kendati traktus gastroidntestinal dalam system saraf pusat (SSP) mengandung
enzim-enzim yang berfungsi untuk metabolisme sebagian obat.
Proses metabolisme
ini memungkinkan tubuh untuk menhadapi zat-zat asing dan melakuakn
detoksifikasi. Semua obat yang diberikan lewat mulut harus melintasi hati
sebelum mencapai sirkulasi. Obat-obat yang diberikan lewat jalur lain akan
mencapai hati setelah melintas sirkulasi umum. Metabolisme dalam hati
berlangsung lewat dua tahap :
1.
Produk
pencernaan ditransformasikan oleh metabolisme atau detoksifikasi.
2.
Kemudian
metabolitnya tersebut dibuat larut dalam air (oleh proses konjugasi
[glosarium]) agar metabolit tersebut dapat diekskresikan lewa ginjal. Kedua
proses tersebut sangat bergantung pada enzim-enzim hati.
Aktivitas
enzim-enzim hati dipengaruhi oleh :
·
Susunan ginetik
/tendensi familial
·
Lingkungan hati,
yaitu apa yang mencapai hati dari usus dan sirkulasi
·
Gangguan faal
hati. Keadaan ini cenderung terjadi pada ibu hamil yang mendera malnutrisi,
sirosis hati, hepatitis dan sindrom HELLP atau pada bayi yang kurang gizi
Tujuan
metabolisme obat adalah mengubah obat yan nonpolar (larut lemak) menjadi polar
(larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan
ini obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif, tapi sebaian berubah menjadi
lebih aktif (jika asalnya prodrug), kurang aktif, atau menjadi toksin.
Reaksi metabolism terbagi menjadi dua yaitu:
1.
reaksi fase I :
terdiri dari oksidasi, reduksi, dan hidrolisis, yang menguba obat menjadilebih
polar, dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif atau kurang aktif.
2.
Reaksi fase II :
merupakan reaksi konyugasi dengan substrat endogen : asam glukronat, asam
sulfat, asam asetat, atau asam amino, dan hasilnya menjadi sangat polar dengan
demikian hampir selalu tidak aktif.
Jika enzim
metabolisme mengalami kejenuhan pada kisaran dosis terapi , maka pada
peningkatan dosis obat akan terjadi lonjakan kadar obat dalam plasma , yang
disebut farmakkokinetik non linear.
F. Eksresi
Organ terpenting untuk ekskresi
obat adalah ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun
bentuk metabolitnya.Eksresi dalam bentuk utuh atau aktif merupakan cara
eliminasi obat melalui ginjal.Eksresi melalui ginjal melibatkan 3 proses,yakni
filtrasi glomerulus,sekresi aktif di tubulus proksimal dan reabsorpsipasif di
sepanjang tubulus.fungsi ginjal mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan,dan
setelah dewasa menurun 1% pertahun.
Eksresi melalui ginjal akan
berkuarang jika terdapat gangguan fungsi ginjal. Lain halnya dengan pengurangan
fungsi hati yang tidak dapat di hitung, peguranganfungsi ginjal dapatdi hitung
berdasarkan pengurangankreatinin.
Eksresi obat yang kedua pentingobat
adalah melalui empedu kedalam usus dan keluar bersama fases.
Ekskresi melalui paru terutama
untuk eleminasi gas anastealtik umum.
Ekskresi dalam ASI, salivia,
keringat, dan air mata secara kuntatif tidak penting. Eksresi ini bergantung
terutama pada difusi pasif dari bentuk nonion yang larut lemakmelalui sel
epitel kelenjar dan pada pH. Ekresi dalam ASI meskipun sedikitpenting artinya karena
dapat menimbulkan efek samping pada bayi yang menyusu pada ibunya. ASI lebih
asam dari pada plasama, maka lebih banyak obat-oabt basa dan lebih sedikit
obat-obat asam terdapat dalam ASI dalam ASI dari pada dalam plasma. Ekskresi
dalam salivia : kadar obat dalam salivia sama dengan kadar obat bebas dalam
plasma, maka salivia dapat digunakan untuk mengukur kadar obat jika sukar untuk
memperoleh darah. Ekskresi kerambut dan kulit: mempenyai kepentingan forensic.
Waktu-paruh
eleminasi untuk setiap obat adalah waktu yang diperlukan untuk penurunan
kensentrasi obat tersebut dalam darah atau plasma hingga separuh dari nilai
maksimumnya.
Obat-obat yang
diberikan kurang- lebih dengan waktu-paruh. Bila [pemberian obat menyimpang
terlalu banyak dari ketentuan , fluktuasi konsentrasinya dalam plasma akam
menimbulkan kegagalan terapi dan/atau toksisitas.
Dengan pemberian
obat yang berkali-kali, banyak obat akan bertumpuk di dalam tubuh. Waktu yang
diperlukan untuk terjadinya penumpukan ini bergantung pada waktu-paruh
eleminasi obat. Bagi banyak obay yang diberikan dengan takaran normal,
pemberian secara berkali-kali dengan interval waktu yang terattur akan
menghasilkan konsentrasi plasma yang relative constant atau status konsentrasi
yang tidak fluktuasi. Pada konsentrasi ini , kecepatan eleminasi obat sama
dengan kecepatan pemberiannya : apa yang masuk, itu yang keluar. Waktu yang
diperlukan untuk mencapai status konsentrasi yang constant berada diantara tiga
hingga lima kali waktu-paruh. Kerap kali efek samping baru timbul setelah
status constant telah tercapai.
Ikatan antara obat dengan reseptor biasanya terdiri
dari berbagai ikatan lemah (ikatan ion , hydrogen , hidrofobik, van der waals),
mirip ikatan anatara substrat dengan enzim, jarang terjadi ikatan kovalen.
Dosis obat adalah jumlah atau
takaran tertentu dari suatu obat yang memberikan efek tertentu terhadap suatu
penyakit. Jika dosis terlalu rendah, maka efek terapi tidak tercapai.
Sebaliknya jika berlebih, bisa menimbulkan efek toksik atau keracunan bahkan
kematian.
Dosis lazim
suatu obat dapat ditentukan sebagai jumlah yang dapat diharapkan menimbulkan
efek pada pengobatan orang dewasa yang sesuai dengan gejalanya. Rentangan dosis
lazim suatu obat menunjukkan perkisaran kuantitatif atau jumlah obat
yang dapat ditentukan dalam kerangka praktek pengobatan biasa. Untuk obat –
obatan yang mungkin dipakai oleh anak – anak maka dosisya diturunkan dari
dosis dewasa.
Jadwal dosis
atau aturan pemakaian sering
dijelaskan dalam pustaka obat. misalnya beberapa macam obat paling baik diminum
pada waktu tertentu (setiap 8 jam) dan waktu – waktu tertentu (sebelum tidur,
sebelum makan, sesudah makan). Dosis tunggal diberikan untuk beberapa macam
obat dan dosis harian, untuk yang lainnya tergantung pada bahan obat, bentuk
sediaan dan keadaan penyakit.
Macam-macam dosis obat berdasarkan
takaran yang digunakan :
1. Dosis terapi atau dosis lazim adalah
takaran yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan.
2. Dosis maksimal (DM) adalah takaran
terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan
sehari tanpa membahayakan.
3. Lethal dose 50 adalah takaran yang
menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.
4. Lethal dose 100 adalah takaran yang
menyebabkan kematian pada 100% ewan percobaan.
5. Dosis toksis adalah takaran
pemberian obat yang dapat menyebabkan keracunan, tetapi tidak menyebabkan
kematian.
6. Dosis sinergis, bila dalam suatu
resep terdapat dua atau lebih bahan obat yang berDM dan menpunyai efek yang
sama maka dihitung DM gabungann yang tidak boleh lebih dari satu.
Tujuan perhitungan dosis obat
adalah, agar pasien mendapatkan obat sesuai dengan yang diperlukan oleh pasien
tersebut, baik berdasarkan kemauan sendiri atau berdarkan dosis yang ditentukan
oleh dokter penulis resep kalau obat tersebut harus dengan resep dokter.
Faktor – faktor yang mempengaruhi dosis
obat antara sebagai berikut :
1.
Umur
Umur pasien merupakan suatu pertimbangan untuk menentukan
dosis obat.Dosis
obat memiliki kekhususan dalam perawatan neonatal (kelahiran baru), pasien
pedriatik dan geriatik.
Dosis yang
diperuntukan bagi pediatrik merupakan pecahan dari dosis orang dewasa. Tergantung
pada umur pasien
dan secara relative terhadap pasien yang lebih muda.
2.
Berat Badan
Dosis lazim secara umum dianggap cocok untuk orang dengan
berat badan 70 kg (150 pound). Rasio antara jumlah obat yang digunakan dan
ukuran tubuh mempengaruhi konsentarsi obat pada tempat kerjanya. Untuk itu
dosis obat memerlukan penyesuaian dari dosis biasa untuk orang dewasa ke dosis
yang tidak lazim, pasien kurus atau gemuk, penentuan dosis obat untuk pasien
yang lebih muda, berdasarkan berat badan lebih tepat diandalkan dari pada yang
mendasarkan kepada umur sepenuhnya.
Dosis obat berdasarkan kepada berat badan, dinyatakan
dalam milligram (obat) perkilogram (berat badan).
3.
Luas Permukaan Tubuh
Suatu formula untuk menentukan dosis anak berdasarkan
pada luas permukaan tubuh yang relatif dari dosis orang dewasa sebagai berikut
:
Luas Permukaan tubuh anak
Luas
Permukaan tubuh dewasa
Luas permukaan perseorangan bisa ditentukan dari suatu
monogram yang membuat skala tinggi, lebar, dan luas permukaan.
4.
Jenis Kelamin
Wanita dipandang lebih mudah terkena efek obat-obatan
dari pada laki-laki, dan dalam beberapa hal perbedaan ini dianggap cukup memerlukan
pengurangan dosis.
5.
Status Patologi
Efek obat-obatan tertentu dapat dimodifikasikan oleh
kondidi patologi pasien dan harus dipertimbangkan dalam penentuan obat yang
akan digunakan dan juga dosisnya yang tepat. Obat-obat yang memiliki potensi
berbahaya tinggi pada suatu situasi terapentik tertentu hanya boleh dipakai
apabila kemungkinan manfaatnya melebihi kemungkinan resikonya terhadap pasien,
dan bila sudah tidak ada lainnya yang cocok dan kemungkinan keracunannya lebih
rendah.
6.
Toleransi
Kemampuan untuk memperpanjang
pengaruh suatu obat, khususnya apabila dibutuhkan untuk pemakaian bahan yang
terus menerus disebut toleransi obat. Efek toleransi obat ialah obat yang
dosisnya harus ditambah untuk menjaga respon terapeutik tertentu. Untuk
kebanyakan obat-obatan pengembang toleransi dapat diperkecil dengan cara
memprakasai terapi dengan dosis efektifnya yang terendah dengan cara mencegah
perpanjangan pemakaian
7.
Terapi dengan obat yang diberikan secara bersamaan.
Efek-efek
suatu obat dapat dimodifikasikan dengan pemberian obat lainnya secara bersamaan
atau sebelumnya. Keterlibatan semacam ini antara
obat-obatan dihubungkan atau dirujuk pada interaksi obat-obatan dan
merupakan akibat interaksi obat-obatan secara fisik, kimiawi, atau karena terjadinya
perubahan pada pola absorpsi, distribusi, metabolisme atau eksresi salah satu
obat tersebut. Efek dari interaksi
obat dapat bermanfaat dan menggangguterapi.
8.
Waktu Pemakaian
Waktu
ketika obat itu dipakai mempengaruhi dosisnya. Hal ini terutama pada terapi
oral dalam hubungannya dengan makanan. Jadwal waktu yang tepat dari
dosis obat merupakan suatu faktor penyakit dan kadar obat dalam
tubuh yang diharapkan, sifat fisika kimia obat itu sendiri, rancangan bentuk
sediaan dan derajat serta kecepatan absorpsi obat.
Cara
menghitung dosis obat
Banyak cara yang dapat digunakan
untuk menghitung dosis obat antara lain :
1. Berat badan
Dengan cara mengalikan berat badan
pasien tersebut dengan dosis obat, maka akan diperoleh dosis obat untuk pasien
tersebut.
2. Luas permukaan tubuh
Menentukan titik potong pada skala
nomogram antara tinggi badan dengan berat badan seseorang, maka akan didapat
luas permukaan tubuh dalam meter persegi.
3. Umur pasien
Untuk pasien anak-anak bisa
berdasarkan umur dalam tahun, umur dalam bulan, atau berdasarkan umur pada
ulang tahun yang akan datang. Ada juga perhitungan dosis obat untuk anak-anak
berdasarkan berat badan baik kilogram atau dalam pon.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mencakup
studi tentang penyerapan dan distribusi obat , studi tentang perubahan kimiawi
obat dalam tubuh , dan studi sarana penyimpanan obat di dalam tubuh dan
penghapusannya. Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang
dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi. Dalam arti sempit, farmakokinetik khususnya mempelajari
perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya dalam darah dan
jarigan sebagai fungsi dari waktu
B.
Saran
Mahasiswi perlu balajar
farmakologi dengan baik, sala satu cabangnya ilah farmakokinatik. Mahasiswi
perlu memparbanyak referensi lagi sebab dalam penyusunan makalah ini masih
sangat kurang akan ilmu yang berkaitan dengan cabang ilmu fermakologi.
Mengingat ini menrupaka pendahuluan untuk pemahaman kita mengani farmakologi
yang khususnya yang akan kita pelajari untuk kebidanan. Untuk penyusunan
makalah dengan judul yang sama kami berharap makalah yang akan dating memiliki
kelebihan akan pembhasanynya yang mempunyi referansi yang lebih banyak lagi.
Mangingat keterbatan referansi
di perpustakaan membuat makalah ini sangat minim ilmunya.
DAFTAR PUSTAKA
dr. Amir Syarif, SKM.SpFK,
dkk.2007. .Farmakologi Dan Terapi.
Edisi 5 (cetakan ulang dengan tambahan ,2012). Jakarta : Badan Penerbit FKUI.
Sue Jordan 2004.Farmakologi Kebidanan . cetakan I
.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Diakses pada tanggal 02 Juni 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar