Kamis, 13 Juli 2017

Farmakokinetik dalam kebidanan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam arti luas, farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor. Senyawa ini biasanya disebut obat dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari manfaat dan risiko penggunaan obat.
Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu mengenai cara membuat, memformulasi, menyimpan, dan menyediakan obat. Farmakologi terutama terfokus pada dua sub, yaitu farmakokinetik dan farmakodinamik.
Tanpa pengetahuan farmakologi yang baik, seorang farmasis dapat menjadi suatu masalah untuk bagi pasien karena tidak ada obat yang aman secara murni. Hanya dengan penggunaan yang cermat, obat akan bermanfaat tanpa efek samping tidak diinginkan yang tidak mengganggu.
Obat selain bermanfaat dalam pengobatan penyakit, juga merupakan penyebab penyakit. Menurut  suatu survey di Amerika Serikat, sekitar 5% pasien masuk rumah sakit akibat obat. Rasio fatalitas kasus akibat obat di rumah sakit bervariasi antara 2-12%. Efek samping obat meningkat sejalan dengan jumlah obat yang diminum. Melihat fakta tersebut, pentingnya pengetahuan farmakologi bagi seorang farmasis.
Farmakologi terutama berfokus pada dua subdisiplin, yaitu farmakodinamik dan farmakokinetik. Namun dalam makalah ini mengenai ilmu farmakologi penyusun berfokus pada ilmu disiplin farmakokinetik.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini ialah :
1.      Apa yang dimaksud dengan farmakokinetik ?
2.      Apa yang dimaksud dengan absorbsi dan bioavailabitas ?
3.      Apa itu distribusi dalam farmakokinatik ?
4.      Bagaimana metabolisme dan eksresi dalam farmakokinetik ?
5.      Bagaimanakah takaran dosis yan gdigunakan pada farmakokinatik ?

C.    Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini ilah selain untuk memenuhi tugas kami di mata kuliah farmakologi dan untuk menambah ilmu pengetahuan kami tujuan lain dari penyusunan makala ini ialah :
1.      Untuk mengtahui penegrtian dari farmakokinetik.
2.      Untuk mengetahui penegrtian dari  absorpsi dan bioavailabitas.
3.      Untuk mengatahui distribusi dalam farmakokinatik.
4.      Untuk mengetahui metabolisme dan eksresi dalam farmakokinetik.
5.      Serta untuk mengatahui takaran dosis yang digunakan pada farmakokinatik.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Farmakokinetik
Mencakup studi tentang penyerapan dan distribusi obat , studi tentang perubahan kimiawi obat dalam tubuh , dan studi sarana penyimpanan obat di dalam tubuh dan penghapusannya. Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Dalam arti sempit, farmakokinetik khususnya mempelajari perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya dalam darah dan jarigan sebagai fungsi dari waktu.
Dalam fase farmakokinetik termasuk bagian proses invasi dan proses eliminasi (evasi). Yang dimaksud dengan invasi ialah proses-proses yang berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat ke dalam organisme (absorpsi, distribusi), sedangkan eliminasi merupakan proses-proses yang menyebabkan penurunan konsentrasi obat dalam organisme (metabolisme, ekskresi).
Setiap obat memiliki sebuah kisaran teraupetik atau kisaran yang dikehendaki untuk konsentrasi obat tersebutdalam plasma. Diatas kisaran teraupetik, efek toksin dapat terjadi. Dibawah kisaran traupetik , obat tidak menghasilkan efek yang dikehendaki.
Konsentrasi setiap obat dalam plasma dan jaringan tubuh bergantung pada cara obat tersebut diperlakukan tubuh . tubuh menangani  semua obat melalui tiga tahap yaitu absopsi, distribusi dan eleminasi.

B.     Absorpsi
Absorpsi merupakan proses yang membuat obet tersedia di dalam cairan tubuh untuk didistribusikan. merupakan Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna ( mulut sampai dengan rectum ), kulit, paru, otot, dan lain-lain.
Penghalang utama yang merintangi absorpsi dan distribusi obat meliputi : dinding usus, dinding pembuluh kapiler , membrane sel dan sawar darah/ otak, plasenta, sawar darah dan ASI.
Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral/per os, dengan cara ini tempat absopsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yanng sangat luas, yakni 200 m2 ( panjang 280 cm, diameter 4 cm, disertai dengan villi dan mikrovilli ).
Semua tablet dan kapsul harus ditelan dengan segelas penuh air , sementara pasien duduk tegak dan mempertahankan posisi tegak tersebut selama 30 menit. Tindakan ini akan memastikan tidak terjadinya kontak yang berkepanjangan antara obat dan dinding mukosa mulut serta esophagus yang rentang ter hadap zat-zat korosif seperti aspirin , zat besi  dan garam kalium.
Absorpsi obat melalui saluran cerna pada umumnya terjadi secara difusi pasif, karena itu absorpsi mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak. Absorpsi secara transpor aktif terjadi terutama di dalam usus halus untuk zat-zat makanan : glokusa dan gula lain, asam amino, basa purin, dan pirimidin, mineral, dan beberapa vitamin. Cara ini juga terjadi untuk obat-obat yang struktur kimianya mirip struktur zat makanan tersebut. Misalnya levodopa, metildopa, 6-merkaptopurin, dan 5-flourourasil.
Kebanyakan obat merupakan electrolit lemah, yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam air, elektrolit lemah ini akan terionisasi menjadi bentuk ionnya. Untuk asam lemah, pH yang tinggi (suasana basa ) akan meningkatkan ionisasinya dan mengurangi bentuk nonionnya. Sebaliknya untuk basa lemah, pH yang rendah (suasana asam ) yang akan meningkatkan ionisasinya dan mengurangi nonionnya. Hanya bentuk nonion yang mempunyai kelarutan lemak, sehingga hanya bentuk nonion dan bentuk ion berada dalam kesetimbangan, maka setelah bentuk nonion diabsopsi, kesetimbangan akan bergeser kearah bentuk nonion sehingga absorpsi akan berjalan terus sampai habis. Zat-zat makanan dan oabt0obat yanng strukturnya mirip makanan, yang tidak dapat / sukar berdifusi pasif memerlikan membran agar dapat dapat diabsorpsi dari saluran cerna maupun direabsopsi dari lumen tubulus ginjal.


  Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi:
·         Derajat ionisasi.
·         Dosis dan waktu pemberian obat
·         pH dan pK
·         pelarut obat dan bentuk obat
·         luas permukaan absorpsi
·         aliran darah
·         kondisi usus dan kecepatan pengosongan lambung
·         interaksi dengan obat lain
Rasa nyeri khususnya migraine dan nyeri persalinan akan mempengaruhi mortilitas lambung sehingga memperlambat penyerapan obat- obat yang iberikan per oral.
Keadaan makanan dalam lambung dapat menpengaruhi absorpsi banyak obat , seperti zat besi, preparat antimikroba dan nifedipin. Keberadaan makanan dalam lambung dapat mengurangi rasa mual yang menyertai pemberian beberapa obat seperti zat besi dan asprin. Absorpsi sebagian obat ditingkatkan oleh keasaman lambung.
Penurunan motilitas gastrointestinal yang berkaitan dengan kehamilan (akibat peningkatan progesterone dan penurunan motilin) memperlambatt absorpsi obat-obatan tertentu dari dalam traktus gastrointestinal. Hal ini dapat mengurangi efikasi obat-obat anti-epilepsi. Selama kehamilan , pembuluh darah tepi akan melebar sehingga terjadi peningkatan sirkulasi perifer yang dapat meningkatkan penyerapan obat-obat yang diberikan lewat suntikan sub kutan atau intramuskuler. Bagi wanita dengan penyakit diabetes harus diingatkan tentang bertambahanya risiko hipoglikemia pada awal kehamilannya.

C.    Bioavailabilitas
Konsep bioavailabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Osser pada tahun 1945, yaitu pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang dipakai pertamakali adalah availabilitas fisiologik, yang kemudian diperluas pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas. Dimulai di negara Amerika Serikat, barulah pada tahun1960 istilah bioavailabilitas masuk ke dalam arena promosiobat. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produk obat yang sama yang diproduksi oleh berbagai industri obat, adanya keluhan dari pasien dan dokter di man obat yangsama memberikan efek terapeutik yang berbeda, kemudiandengan adanya ketentuan tidak diperbolehkannya Apotekmengganti obat yang tertulis dalam resep dengan obat mereklainnya.
Sebagai cabang ilmu yang relatif baru, ditemukan berbagaidefinisi tentang bioavailabilitas dalam berbagai literatur. Bagian yang esensial dalam konsep bioavailabilitas adalah absorpsi obat ke dalam sirkulasi sistemik.

Ada 2 unsur penting dalam absorpsi obat yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
          1)      kecepatan absorpsi obat
          2)       jumlah obat yang diabsorpsi                                                                                                                                     
Ke dua faktor ini sangat kritis dalam memperoleh efek terapeutik yang diinginkan dengan toksisitas yang minimal. Atas dasar kedua faktor ini dapat diperkirakan bagaimana seharusnya definisi tentang bioavailabilitas. Dua definisi berikut ini merupakan definisi yang relatif lebih sesuai dengan kedua faktor di atas adalah :
Definisi 1: Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik.
Definisi 2 : Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi.

D.    Distribusi
Distribusi merupakan perjalanan obat keseluruh tubuh. Proses ini dipengaruhi oleh:
1.      Pengikatan protein plasma
2.      Kelarutan obat dalam lipid (yaitu, apakah obat tersebut larut dalam jaringan lemak)
3.      Sifat-keterikatan obat
4.      Aliran darah kedalam organ dan keadaan sirkulasi
5.      Stadium dalam siklus kehidupan, misalnya kehamilan , masa bayi
6.      Kondisi penyakit , misalnya preklampsia atau gagal jantung
Dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma dengan berbagai ikatan lemah (ikatan hidrofobik, van der waals, hidrogen dan ionik).
Obat yang terikat pada protein plasma akan dibawah oleh darah keseluruh tubuh. Kompleks obat proten terdisosiasi dengan sangat cepat. Obat bebas akan keluar kejaringan (dengan cara yang sama seperti cara masuknya). Ketempat kerja obat, kejaringan tempat depotnya, kehati ( dimana obat mengalami metabolisme menjadi metabolit yang dikeluarkan melalui empedu atau masuk kembali kedarah), dan keginjal (dimana obat/metabolitnya diekaskresi kedalam urin).
Dijaringan, obat yang larut air akan tetap berada diluar sel (dicairan interstisial), sedangkan obat yang larut lemak akan berdifusi melintasi membran sel dan masuk kedalam sel, tetapi karena perbedaan ph di dalam sel (ph=7) dan diluar sel (ph=7,4), maka obat-obat asam lebih banyak diluar sel dan obat-obat basah lebih banyak didalam sel.
Sawar darah otak (blood-brain barrier) merupakan sawar antara darah dan otak sel-sel endotel pembuluh darah kapiler diotak membentuk tight-junction (tidak ada lagi cela diantara sel-sel endotel tersebut) dan pembuluh darah kapiler ini dibalut oleh tangan-tangan astrosit otak yang merupakan berlapis-lapis membran sel. Dengan demikian hanya obat laruk baik dalam lemak yang dapat melintasi sawar darah otak. Akan tetapi obat laruk lemak yang merupakan substra P-gp atau MRP akan dikeluarkan oleh P-gp atau MRP yang terdapat pada membran sel endotel pembuluh kapiler otak (awar darah otak). Dengan demikian P-gp menunjang fungsi sawar darah otak untuk melindungi otak dari obat yang efeknya merugikan. Contohnya, loperamid, obat ini larut lemak tapi juga substrat P-gp maka tidak masuk otak.
Sawar uri (placental barrier) terdiri dari satu lapisan sel epitel vili dan satu lapisan sel endotel kapiler dari fetus, jadi mirip sawar saluran cerna. Karena itu obat yang dapat diabsorpsi melalui pemberian oral juga dapat masuk ftus melalui sawar uri. P-gp pada sawar uri, seperti halnya pada sawar darah otak, juga berfungsi untuk menunjang fungsi sawar untuk melindungi fetus dari otak yang efeknya merugikan.
Kegagalan ginjal dan hati akan menganggu kemampuan tubuh dalam mengeliminasi besar obat ( misalnay eklampsia atau preeclampsia yang berat). Obat juga akan menumpuk dalam tubuh jika ibu hamil atau nenatus tersebut mengalami dehidrasi. Jika terjadi penumpukan obat, efek sampingnya akan semakin berat. Keadaan lain yang dapat mempengaruhi distribusi obat meliputi : gagal jantung, penyakit tiroid, penyakit gastrointestinal.


E.     Matabolisme
Metabolisme / Biotransformasi yaitu proses perubahan struktur kimia obat dan zat lain yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim.
Metabolisme obat terutama tejadi di hati, yakni di membran endoplasmic recticulum ( mikrosom) dan di cytosol. Tempat metabolism yang lain ( ekstrhepatik) adalah : dinding usus, ginjal, paru, darah, otak, dan kulit, juga di lumen kolon (oleh flora usus).
Sebagian besar metabolisme obat berlangsung  dalam hati, kendati traktus gastroidntestinal dalam system saraf pusat (SSP) mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk metabolisme sebagian obat.
Proses metabolisme ini memungkinkan tubuh untuk menhadapi zat-zat asing dan melakuakn detoksifikasi. Semua obat yang diberikan lewat mulut harus melintasi hati sebelum mencapai sirkulasi. Obat-obat yang diberikan lewat jalur lain akan mencapai hati setelah melintas sirkulasi umum. Metabolisme dalam hati berlangsung lewat dua tahap :
1.      Produk pencernaan ditransformasikan oleh metabolisme atau detoksifikasi.
2.      Kemudian metabolitnya tersebut dibuat larut dalam air (oleh proses konjugasi [glosarium]) agar metabolit tersebut dapat diekskresikan lewa ginjal. Kedua proses tersebut sangat bergantung pada enzim-enzim hati.


Aktivitas enzim-enzim hati dipengaruhi oleh :
·         Susunan ginetik /tendensi familial
·         Lingkungan hati, yaitu apa yang mencapai hati dari usus dan sirkulasi
·         Gangguan faal hati. Keadaan ini cenderung terjadi pada ibu hamil yang mendera malnutrisi, sirosis hati, hepatitis dan sindrom HELLP atau pada bayi yang kurang gizi
Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yan nonpolar (larut lemak) menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif, tapi sebaian berubah menjadi lebih aktif (jika asalnya prodrug), kurang aktif, atau menjadi toksin.
Reaksi metabolism terbagi menjadi dua yaitu:
1.      reaksi fase I : terdiri dari oksidasi, reduksi, dan hidrolisis, yang menguba obat menjadilebih polar, dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif atau kurang aktif.
2.      Reaksi fase II : merupakan reaksi konyugasi dengan substrat endogen : asam glukronat, asam sulfat, asam asetat, atau asam amino, dan hasilnya menjadi sangat polar dengan demikian hampir selalu tidak aktif.
Jika enzim metabolisme mengalami kejenuhan pada kisaran dosis terapi , maka pada peningkatan dosis obat akan terjadi lonjakan kadar obat dalam plasma , yang disebut  farmakkokinetik non linear.

F.     Eksresi
Organ terpenting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya.Eksresi dalam bentuk utuh atau aktif merupakan cara eliminasi obat melalui ginjal.Eksresi melalui ginjal melibatkan 3 proses,yakni filtrasi glomerulus,sekresi aktif di tubulus proksimal dan reabsorpsipasif di sepanjang tubulus.fungsi ginjal mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan,dan setelah dewasa menurun 1% pertahun.
Eksresi melalui ginjal akan berkuarang jika terdapat gangguan fungsi ginjal. Lain halnya dengan pengurangan fungsi hati yang tidak dapat di hitung, peguranganfungsi ginjal dapatdi hitung berdasarkan pengurangankreatinin.
Eksresi obat yang kedua pentingobat adalah melalui empedu kedalam usus dan keluar bersama fases.
Ekskresi melalui paru terutama untuk eleminasi gas anastealtik umum.
Ekskresi dalam ASI, salivia, keringat, dan air mata secara kuntatif tidak penting. Eksresi ini bergantung terutama pada difusi pasif dari bentuk nonion yang larut lemakmelalui sel epitel kelenjar dan pada pH. Ekresi dalam ASI meskipun sedikitpenting artinya karena dapat menimbulkan efek samping pada bayi yang menyusu pada ibunya. ASI lebih asam dari pada plasama, maka lebih banyak obat-oabt basa dan lebih sedikit obat-obat asam terdapat dalam ASI dalam ASI dari pada dalam plasma. Ekskresi dalam salivia : kadar obat dalam salivia sama dengan kadar obat bebas dalam plasma, maka salivia dapat digunakan untuk mengukur kadar obat jika sukar untuk memperoleh darah. Ekskresi kerambut dan kulit: mempenyai kepentingan forensic.
Waktu-paruh eleminasi untuk setiap obat adalah waktu yang diperlukan untuk penurunan kensentrasi obat tersebut dalam darah atau plasma hingga separuh dari nilai maksimumnya.
Obat-obat yang diberikan kurang- lebih dengan waktu-paruh. Bila [pemberian obat menyimpang terlalu banyak dari ketentuan , fluktuasi konsentrasinya dalam plasma akam menimbulkan kegagalan terapi dan/atau toksisitas.
Dengan pemberian obat yang berkali-kali, banyak obat akan bertumpuk di dalam tubuh. Waktu yang diperlukan untuk terjadinya penumpukan ini bergantung pada waktu-paruh eleminasi obat. Bagi banyak obay yang diberikan dengan takaran normal, pemberian secara berkali-kali dengan interval waktu yang terattur akan menghasilkan konsentrasi plasma yang relative constant atau status konsentrasi yang tidak fluktuasi. Pada konsentrasi ini , kecepatan eleminasi obat sama dengan kecepatan pemberiannya : apa yang masuk, itu yang keluar. Waktu yang diperlukan untuk mencapai status konsentrasi yang constant berada diantara tiga hingga lima kali waktu-paruh. Kerap kali efek samping baru timbul setelah status constant telah tercapai.

G.    Dosis
Ikatan  antara obat dengan reseptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan lemah (ikatan ion , hydrogen , hidrofobik, van der waals), mirip ikatan anatara substrat dengan enzim, jarang terjadi ikatan kovalen.
Dosis obat adalah jumlah atau takaran tertentu dari suatu obat yang memberikan efek tertentu terhadap suatu penyakit. Jika dosis terlalu rendah, maka efek terapi tidak tercapai. Sebaliknya jika berlebih, bisa menimbulkan efek toksik atau keracunan bahkan kematian.
Dosis lazim suatu obat dapat ditentukan sebagai jumlah yang dapat diharapkan menimbulkan efek pada pengobatan orang dewasa yang sesuai dengan gejalanya. Rentangan dosis lazim suatu obat menunjukkan perkisaran kuantitatif  atau jumlah obat yang dapat ditentukan dalam kerangka praktek pengobatan biasa. Untuk obat – obatan yang mungkin dipakai oleh anak – anak maka dosisya diturunkan dari dosis dewasa.
Jadwal dosis atau aturan pemakaian sering dijelaskan dalam pustaka obat. misalnya beberapa macam obat paling baik diminum pada waktu tertentu (setiap 8 jam) dan waktu – waktu tertentu (sebelum tidur, sebelum makan, sesudah makan). Dosis tunggal diberikan untuk beberapa macam obat dan dosis harian, untuk yang lainnya tergantung pada bahan obat, bentuk sediaan dan keadaan penyakit.
Macam-macam dosis obat berdasarkan takaran yang digunakan :
1.      Dosis terapi atau dosis lazim adalah takaran yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan.
2.      Dosis maksimal (DM) adalah takaran terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan.
3.      Lethal dose 50 adalah takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.
4.      Lethal dose 100 adalah takaran yang menyebabkan kematian pada 100% ewan percobaan.
5.      Dosis toksis adalah takaran pemberian obat yang dapat menyebabkan keracunan, tetapi tidak menyebabkan kematian.
6.      Dosis sinergis, bila dalam suatu resep terdapat dua atau lebih bahan obat yang berDM dan menpunyai efek yang sama maka dihitung DM gabungann yang tidak boleh lebih dari satu.
Tujuan perhitungan dosis obat adalah, agar pasien mendapatkan obat sesuai dengan yang diperlukan oleh pasien tersebut, baik berdasarkan kemauan sendiri atau berdarkan dosis yang ditentukan oleh dokter penulis resep kalau obat tersebut harus dengan resep dokter.


Faktor – faktor yang mempengaruhi dosis obat antara sebagai berikut  :
1.      Umur
Umur pasien merupakan suatu pertimbangan untuk menentukan dosis obat.Dosis obat memiliki kekhususan dalam perawatan neonatal (kelahiran baru), pasien pedriatik dan geriatik.
Dosis yang diperuntukan bagi pediatrik merupakan pecahan dari dosis orang dewasa. Tergantung pada umur pasien dan secara relativterhadap pasien yang lebih muda.
2.      Berat Badan
Dosis lazim secara umum dianggap cocok untuk orang dengan berat badan 70 kg (150 pound). Rasio antara jumlah obat yang digunakan dan ukuran tubuh mempengaruhi konsentarsi obat pada tempat kerjanya. Untuk itu dosis obat memerlukan penyesuaian dari dosis biasa untuk orang dewasa ke dosis yang tidak lazim, pasien kurus atau gemuk, penentuan dosis obat untuk pasien yang lebih muda, berdasarkan berat badan lebih tepat diandalkan dari pada yang mendasarkan kepada umur sepenuhnya.
Dosis obat berdasarkan kepada berat badan, dinyatakan dalam milligram (obat) perkilogram (berat badan).
3.      Luas Permukaan Tubuh
Suatu formula untuk menentukan dosis anak berdasarkan pada luas permukaan tubuh yang relatif dari dosis orang dewasa sebagai berikut :
Luas Permukaan tubuh anak  
      
             Luas Permukaan tubuh dewasa
Luas permukaan perseorangan bisa ditentukan dari suatu monogram yang membuat skala tinggi, lebar, dan luas permukaan.
4.      Jenis Kelamin
Wanita dipandang lebih mudah terkena efek obat-obatan dari pada laki-laki, dan dalam beberapa hal perbedaan ini dianggap cukup memerlukan pengurangan dosis.
5.      Status Patologi
Efek obat-obatan tertentu dapat dimodifikasikan oleh kondidi patologi pasien dan harus dipertimbangkan dalam penentuan obat yang akan digunakan dan juga dosisnya yang tepat. Obat-obat yang memiliki potensi berbahaya tinggi pada suatu situasi terapentik tertentu hanya boleh dipakai apabila kemungkinan manfaatnya melebihi kemungkinan resikonya terhadap pasien, dan bila sudah tidak ada lainnya yang cocok dan kemungkinan keracunannya lebih rendah.           
6.      Toleransi    
Kemampuan untuk memperpanjang pengaruh suatu obat, khususnya apabila dibutuhkan untuk pemakaian bahan yang terus menerus disebut toleransi obat. Efek toleransi obat ialah obat yang dosisnya harus ditambah untuk menjaga respon terapeutik tertentu. Untuk kebanyakan obat-obatan pengembang toleransi dapat diperkecil dengan cara memprakasai terapi dengan dosis efektifnya yang terendah dengan cara mencegah perpanjangan pemakaian
7.      Terapi dengan obat yang diberikan secara bersamaan.
Efek-efek suatu obat dapat dimodifikasikan dengan pemberian obat lainnya secara bersamaan atau sebelumnya. Keterlibatan semacam ini antara obat-obatan  dihubungkan atau dirujuk pada interaksi obat-obatan dan merupakan akibat interaksi obat-obatan secara fisik, kimiawi, atau karena terjadinya perubahan pada pola absorpsi, distribusi, metabolisme atau eksresi salah satu obat tersebut. Efek dari interaksi obat dapat bermanfaat dan menggangguterapi.
8.      Waktu Pemakaian
Waktu ketika obat itu dipakai mempengaruhi dosisnya. Hal ini terutama pada terapi oral dalam hubungannya dengan makanan.  Jadwal waktu yang tepat dari dosis obat merupakan suatu faktor  penyakit dan kadar obat dalam tubuh yang diharapkan, sifat fisika kimia obat itu sendiri, rancangan bentuk sediaan dan derajat serta kecepatan absorpsi obat.

Cara menghitung dosis obat
Banyak cara yang dapat digunakan untuk menghitung dosis obat antara lain :
1.      Berat badan
Dengan cara mengalikan berat badan pasien tersebut dengan dosis obat, maka akan diperoleh dosis obat untuk pasien tersebut.


2.      Luas permukaan tubuh
Menentukan titik potong pada skala nomogram antara tinggi badan dengan berat badan seseorang, maka akan didapat luas permukaan tubuh dalam meter persegi.
3.      Umur pasien
Untuk pasien anak-anak bisa berdasarkan umur dalam tahun, umur dalam bulan, atau berdasarkan umur pada ulang tahun yang akan datang. Ada juga perhitungan dosis obat untuk anak-anak berdasarkan berat badan baik kilogram atau dalam pon.














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Mencakup studi tentang penyerapan dan distribusi obat , studi tentang perubahan kimiawi obat dalam tubuh , dan studi sarana penyimpanan obat di dalam tubuh dan penghapusannya. Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Dalam arti sempit, farmakokinetik khususnya mempelajari perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya dalam darah dan jarigan sebagai fungsi dari waktu

B.     Saran
Mahasiswi perlu balajar farmakologi dengan baik, sala satu cabangnya ilah farmakokinatik. Mahasiswi perlu memparbanyak referensi lagi sebab dalam penyusunan makalah ini masih sangat kurang akan ilmu yang berkaitan dengan cabang ilmu fermakologi. Mengingat ini menrupaka pendahuluan untuk pemahaman kita mengani farmakologi yang khususnya yang akan kita pelajari untuk kebidanan. Untuk penyusunan makalah dengan judul yang sama kami berharap makalah yang akan dating memiliki kelebihan akan pembhasanynya yang mempunyi referansi yang lebih banyak lagi.
Mangingat keterbatan referansi di perpustakaan membuat makalah ini sangat minim ilmunya.

DAFTAR PUSTAKA

dr. Amir Syarif, SKM.SpFK, dkk.2007. .Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5 (cetakan ulang dengan tambahan ,2012). Jakarta : Badan Penerbit FKUI.

Sue Jordan 2004.Farmakologi Kebidanan . cetakan I .Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
 Anonym.2015.http:// Farmakologi. www.blog spot.o.id
      Diakses pada tanggal 02 Juni 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar